Konsep Keselamatan di GBKP / Surga dan Neraka - Bahan PA Permata 24 Mei - 30 Mei 2026
Tanggal 24 Mei - 30 Mei 2026Konsep Keselamatan di GBKP/Surga dan Neraka
Nas : Matius 25:31-46
Tema : Hidup yang kekal
Agar PERMATA GBKP :
1. Memahami konsep hidup yang kekal, sorga dan neraka.
2. Menghidupi kehidupan yang diperintahkan oleh Yesus sebagai tindakan nyata dari orang yang diselamatkan.
Metode: Ceramah
I. PENDAHULUAN
Eskhatologi, hidup yang kekal, surga dan neraka merupakan tema menarik dan sering dibahas. Hal-hal yang menyangkut "dunia di seberang sana" memang membuat penasaran dan membangkitkan rasa ingin tahu yang terkadang berlebihan. Pada tingkat ekstrim, ada orang yang dengan lantangnya mengklaim diri sudah mendapat wahyu Tuhan dan sudah beberapa kali melakukan perjalanan pulang pergi ke surga atau neraka. Sejak gereja mula-mula hingga zaman ini banyak orang yang telah salah menafsirkan dan mengkhotbahkan topik ini. Di dalam buku sejarah gereja kita membaca bagaimana sekte-sekte kiamat bermunculan dengan segala macam perhitungan hari, bulan dan tahun kedatangan Tuhan. Mereka membuat kalkulasi jitu yang njelimet dan nyeleneh namun ketika prakiraan atau prediksi mereka tidak sesuai kenyataan, mereka dengan mudahnya ngeles atau berdalih dengan seribu satu macam alasan lalu meninggalkan jemaat dalam keadaan linglung dan bingung.
Melalui bahan PA hari ini, kita diajak untuk memikirkan ulang pemahaman kita tentang hari kedatangan Tuhan, hidup kekal dan neraka. Yesus mengingatkan pendengarNya untuk menjadi pendengar dan pengikut yang berhikmat, agar tidak sekedar tahu bahwa Tuhan akan datang kembali tetapi bersiap menyongsong hari yang sangat menentukan itu.
II. ISI
Matius 25:31-46 berada dalam rangkaian pengajaran Yesus tentang akhir zaman dan bagaimana keadaan orang-orang kelak saat Yesus datang kembali. Perumpamaan yang diceritakan dalam perikop ini adalah sebuah cara mengajar orang Yahudi yang sangat khas, meski terkesan ada pengulangan baik kalimat, kata-kata dan alur ceritanya, namun kisahnya sendiri penuh imajinasi yang membawa pesan yang jelas dan mudah dipahami. Setelah menceritakan bagaimana akhir dari 5 gadis yang bijaksana dan 5 yang bodoh, Yesus melanjutkan pengajaranNya deugan mengungkapkan apa dan bagaimana kehidupan kekal itu harus dipahami. Dalam perumpamaan tentang 10 gadis di perikop sebelumnya, Yesus menekankan aspek individual keselamatan serta kesiapan diri menyambut kedatangan Tuhan (Eskhatologi).
Dalam perikop Matius 25:31-46 ini, Yesus mengingatkan bahwa hidup kekal memiliki juga segi/aspek sosial. Keselamatan itu bukan hanya soal kehidupan di surga atau neraka, tetapi soal kini dan di sini; bukan perkara nanti atau kelak sesudah mati, sebab semua bermula di bumi. Yesus. memuji orang yang menunjukkan solidaritas, yakni mereka yang peduli dengan kesejahteraan orang lain. Apa yang mereka perbuat itu bukan sekedar tindakan berbagi makanan, minuman atau pakaian tetapi berbagi kehidupan, harapan dan sukacita. Mereka adalah orang-orang yang memiliki kecerdasan spiritual dan hati yang peka terhadap penderitaan orang lain. Mereka adalah orang-orang yang tidak tega melihat orang lain menderita karena itulah mereka terdorong untuk bertindak.
Orang-orang yang di sebelah kanan adalah orang berhikmat dan bijak dalam tindakan dan perkataan, sedangkan mereka yang dihukum adalah orang-orang yang bodoh. Mereka tidak melihat kehadiran Allah yang tersembunyi di dalam penderitaan sesamanya, sehingga mereka berlalu begitu saja tanpa memberi apa yang dibutuhkan orang-orang yang kurang beruntung itu. Orang-orang yang berada di sebelah kiri tahta Sang Raja adalah mereka yang hidup untuk dirinya sendiri. Mereka hanya memikirkan keselamatan dan surganya sendiri, sementara orang lain yang mengalami neraka kelaparan, kehausan, penyingkiran mereka abaikan begitu saja. Dan lebih parahnya lagi, orang-orang bodoh ini masih suka ngeles untuk menutupi atau membela kebodohannya. Mereka berpikir Tuhan itu buta dan tidak tahu apa yang mereka perbuat sebelum hari penghakiman tiba.
Tetapi Tuhan tidak bisa diperdaya manusia, karena itu dalam keadilanNya, Dia menambahkan sukacita orang yang bijaksana, dengan kata lainnya mengundangnya memasuki hadirat Allah (surga) dan menghajar orang bodoh dan bebal sebab mereka tidak bisa atau menolak mengalami kehadiran Allah dalam diri sesama yang menderita.
III. APLIKASI
Dari pengajaran Yesus ini, kita bisa pahami bahwa surga dan neraka adalah soal bagaimana kita hidup saat ini, di kehidupan kita sekarang. Surga dan neraka tidak melulu mengenai dunia seberang, dunia spiritual tetapi juga situasi hidup nyata sehari-hari. Allah itu maha kasih, sebab itu pulalah Dia memerintahkan kita mengasihi sesama. Pengajaran tentang surga dan neraka merupakan sebuah seruan moral agar manusia bertindak menurut kaidah etika, agar melihat dan menghargai kehidupan itu sedemikian rupa. Dalam bahasa yang lebih sederhana lagi, Yesus mengingatkan pendengarNya, bahwa berkat tidak akan menjadi berkat sempurna bila hanya dinikmati sendiri. Allah tidak pernah memberkati seseorang agar orang tersebut hidup dalam kesendirian, keterasingan dan kesepian. Surga tidak pernah digambarkan dalam Alkitab sebagai tempat terasing atau kavling pribadi. Gambaran tentang surga selalu bersifat komunal, atau selalu menggambarkan kebersamaan.
Hidup kita saat ini dan semua yang kita miliki merupakan "investasi Allah" yang diharapkan kita kembangkan dalam tindakan solidaritas dan cinta kasih kepada sesama, seperti yang nampak dalam puisi indah yang ditulis seorang penyair Korea Selatan berjudul: Surga Adalah Nasi. Kim Chi-Ha, demikian nama sang penyair, mengingatkan agar kita tidak hanya memikirkan diri sendiri. Setiap orang punya mulut dan perut yang harus diisi supaya orang bisa hidup sehat, bekerja dan berpikir dengan tenang. Berbagi dan peduli adalah sikap hidup yang harus dipelajari, sebab di surga kita akan berbagi sukacita dengan orang lain. Kim Chi-Ha lebih lanjut menulis: Kita tidak bisa pergi ke sorga sendirian.
Mengalami hadirat Tuhan (surga) adalah sebuah tindakan bersama bukan individual, karena itu tidak boleh seorang pun yang ditinggalkan atau diabaikan. Bagaimana kalau orang yang diajak itu tidak mau? Itu tanggung jawabnya sendiri, namun yang harus diingat ialah apakah kita sudah mengajak dan memberitakan jalan keselamatan yang menuju hidup kekal itu.
IV. METODE PA: CERAMAH
Alangkah baiknya bila beberapa bulan atau minggu sebelum PA kali ini, Pendeta/Seseorang yang memiliki latar belakang pendidikan teologi (Studi atau kursus/seminar-seminar) sudah diberitahu dan diundang untuk menjadi narasumber dalam PA. Sewaktu membahas tema, cobalah mengulas teks menurut karakter/kepribadian masing-masing kelompok atau orang yang berdiri di depan pengadilan Allah/ akhir zaman. Pelajaran apa yang kita dapat dari orang-orang ini?
V. USULAN LAGU
KEE 292 ( KLIK JUDUL UNTUK MELIHAT LIRIK TEKS LAGU )
Pdt. Albert Purba, M.Th

0 Response to "Konsep Keselamatan di GBKP / Surga dan Neraka - Bahan PA Permata 24 Mei - 30 Mei 2026"
Post a Comment