Pemahaman Tentang Yesus - Mengenal Yesus
Bimbingan PA Permata
Tanggal 08 Maret - 14 Maret 2026
Pemahaman tentang Yesus - Mengenal Yesus
Nas : Matius 17: 1-13
Tuhan Yesus dipermuliakan di atas sebuah gunung
Mark. 9:2-13; Luk. 9:28-36.
1. Lepas enam hari, maka Yesuspun mengambil Petrus dan Yakub dan Yahya saudara Yakub itu, lalu membawa mereka itu ke atas sebuah gunung yang tinggi, berasing.
2. Maka berubahlah rupa-Nya di hadapan mereka itu, serta bersinarlah muka-Nya seperti matahari, dan pakaian-Nya menjadi putih seperti terang siang adanya. (2Petr. 1:16-18.)
3. Tiba-tiba kelihatanlah kepada mereka itu Musa dan Elias bertutur dengan Yesus.
4. Maka kata Petrus kepada Yesus: ”Ya Tuhan, baiklah kita diam di sini; jikalau Tuhan kehendaki, biarlah hamba membuat pondok tiga buah di sini, yaitu sebuah bagi Tuhan, dan sebuah bagi Musa, dan sebuah bagi Elias.”
5. Maka sementara ia lagi berkata-kata, sekonyong-konyong adalah sebuah awan yang bercahaya menaungi mereka itu; lalu kedengaranlah suatu suara dari dalam awan itu mengatakan: ”Inilah Anak-Ku yang Kukasihi, kepada-Nya pun Aku berkenan; dengarlah olehmu akan Dia.” (fs. 3:17.)
6. Apabila didengar oleh murid-murid akan suara itu, maka jatuhlah mereka itu tersungkur, dengan sangat ketakutan.
7. Maka datanglah Yesus menjamah mereka itu sambil berkata: ”Bangunlah, dan jangan kamu takut.”
8. Serta mereka itu mengangkat matanya, seorangpun tiada dilihatnya, hanyalah Yesus seorang diri-Nya.
9. Maka tatkala mereka itu turun dari atas gunung itu, berpesanlah Yesus kepada mereka itu, serta berkata: ”Janganlah kamu mengatakan penglihatan ini kepada seorang jua pun, sebelum Anak manusia bangkit dari antara orang mati.” (fs. 16:20.)
10. Maka murid-murid-Nyapun bertanya kepada-Nya sambil berkata, ”Apakah sebabnya segala ahli Taurat mengatakan, bahwa tak dapat tiada Elias akan datang dahulu?” (fs. 11:14; Mal. 4:5.)
11. Maka jawab Yesus, kata-Nya: ”Memang Elias itu datang serta memperbaiki segala sesuatu.
12. Tetapi Aku berkata kepadamu, bahwa Elias itu sudah datang, maka tiadalah dikenal orang akan dia, melainkan mereka itu melakukan ke atasnya sekehendak hatinya. Demikian juga Anak manusiapun akan dianiayakan orang.” (fs. 14:9, 10.)
13. Maka baharulah murid-murid itu mengerti, bahwa Ia mengatakan kepadanya tentang hal Yahya Pembaptis. (Luk. 1:17.)
Tema : Anak Yang dikasihi, Dengarkanlah Dia!
Agar PERMATA GBKP
1. Mengetahui Yesus adalah Anak Allah yang turun ke dunia.
2. Menjadi Pribadi yang mendengarkan Yesus dalam hidupnya.
Metode: Sharing (Kisah inspiratif injil tentang Yesus)
I. PENDAHULUAN
Percakapan tentang siapa Allah dan bagaimana Allah orang Kristen dapat dianalogikan seperti berjalan di pematang sawah pada malam yang gelap. Jika kita tidak berhati-hati maka kita bisa terperosok, tergelincir kemudian jatuh ke dalam lumpur. Kita kemudian tersesat dan tidak tahu jalan kembali. Namun jika kita dipandu oleh sinar rembulan yang mengarahkan langkah-langkah kecil kita, kendati kita tidak menguasai jala itu sepenuh-penuhnya namun kita bisa tiba dengan selamat. Percakapan tentang who God and How God is bagi orang Kristen disimpulkan dengan istilah Trinitas dan Dualitas. Istilah Trinitas dan Dualitas adalah kata yang paling tepat yang digumulkan oleh orang Kristen di sepanjang segala zaman untuk menerangkan siapa dan bagaimana Allah dan karya-Nya. Istilah ini bukan hendak menerangkan penjelasan secara logika dan hitungan matematis, namun istilah ini disimpulkan dalam terang iman tentang bagaimana Allah dan Karyanya bagi semesta. Kata kunci dalam percakapan ini adalah iman. Iman adalah dasar untuk mempercakapkan Nya. Sebab jika tidak didekati dengan iman, maka yang terjadi adalah sepert berjalan di malam hari di pematang sawah tanpa penerangan. Kita mudah jatuh dan tersesat.
II. ISI
Pada PA kali ini kita akan fokus pada Yesus Kristus, Pribadi kedua dari Allah Trinitas. Hal yang menarik dari Pribadi kedua Allah adalah Yesus bukan hanya Allah sejati, tetapi juga manusia sejati, satu pribadi dengan dua hakekat (dualitas). Secara lebih dekat kita akan membahasnya dalam Matius 17: 1-13. Konsep dualitas itu muncul dalam perkataan, "Inilah Anak yang Kukasihi, dengarkanlah Dia." Kalimat "Dengarkanlah Dia" (Mat. 17:5) muncul dari suara Allah sendiri dalam peristiwa transfigurasi. Fokus utamanya adalah otoritas Yesus sebagai Anak Allah: Dia yang harus didengar, melebihi Musa (Taurat) dan Elia (Nabi-nabi). Jika dikaitkan dengan konsep dualitas Yesus (Allah sejati sekaligus manusia sejati) ada dua implikasi logisnya: Implikasi ilahi, seruan " Dengarkanlah Dia" menegaskan identitas Yesus sebagai Anak Allah. Otoritas itu hanya mungkin kalau Yesus benar-benar berasal dari Allah, bukan sekadar nabi biasa. Implikasi manusiawi, Yesus yang diperintahkan untuk "didengar" adalah Yesus yang sedang berjalan bersama murid-murid-Nya, berbicara, mengajar, bahkan akan menderita dan mati. Artinya, yang harus didengar itu adalah Yesus dalam keberadaan manusiawinya juga. Maka, kendati "Dengarkanlah Dia" tidak secara eksplisit menyebut "dualitas," tetapi secara implisit membuka ruang bagi ita untuk melihat dualitas Kristus: Yesus yang manusia (karena hadir nyata, bisa bicara, bisa menderita) sekaligus Yesus yang Allah (karena otoritasnya ditegaskan langsung oleh suara Allah).
Ada dua poin penting dari perikop ini yang dapat kita sarikan mengenai pribadi Yesus sebagai Anak Allah.
1. Yesus sebagai tokoh sentral (Ay. 1-3)
Suara Allah di gunung itu berkata: Anak-Ku yang Kukasihi, kepada-Nyalah Aku berkenan, dengarkanlah Dia! Perkataan ini nengingatkan Petrus, jemaat mula-mula, dan juga kita hari ini, bahwa fokus iman Kristen selalu kembali pada Yesus. Dialah pusat dari karya keselamatan Allah, pusat hidup dan arah iman kita. Betul, sepanjang sejarah iman ada banyak tokoh penting—para nabi, rasul, bahkan pemimpin gereja tetapi tidak ada satu pun yang boleh menggantikan posisi Yesus ,sebagai pusat iman orang percaya. Kata perintah 'Dengarkanlah Dia' inenegaskan bahwa ajaran dan otoritas Yesuslah yang menjadi dasar hidup kita.
Sebagai anak muda, kita sering mencari sosok panutan. Kadang kita terinspirasi oleh artis, influencer, atau tokoh besar yang memberi motivasi dan arah hidup. Itu wajar. Tapi pada akhirnya, arah hidup kita harus kembali fokus pada Kristus, Sang Anak Allah. Dialah yang harus paling kita dengarkan.
Hal yang luar biasa dari ini semua adalah, suara Allah sendiri meneguhkan identitas Yesus: 'Inilah Anak-Ku yang Kukasihi, dengarkanlah Dia.' Identitas Yesus bukan hasil opini orang, melainkan penegasan dari Allah sendiri. Dengan begitu, kita tahu bahwa otoritas Yesus melampaui semua dalam tokoh dalam Alkitab dan sejarah. Dia adalah pusat, Dia adalah arah, dan Dialah yang layak kita ikuti.
2. Kemuliaan dan Penderitaan
Narasi kemudian diteruskan saat Yesus dan murid-murid turun ke bawah, Yesus kemudian memberi perintah kepada Petrus dkk, "Jangan kamu ceritakan penglihatan itu sebelum Anak Manusia dibangkitkan dari antara orang mati" (ay. 9). Keterangan "sebelum Anak Manusia dibangkitkan dari antara orang mati" menuntun pada sebuah pemahaman bahwa kemuliaan Yesus sebagai Anak Allah berkelindan dengan penderitaan bahkan juga kematian. Posisi mulia sebagai Anak Allah yang harus didengarkan tidak serta merta meniadakan sisi lain dari identitas tersebut, yaitu menderita, mati, lalu bangkit. Pemahaman ini kemudian juga ditegaskan pada identitas Yohanes Pembabtis yang disebut sebagai Elia pada nats ini (ay. 1.3). "Demikian juga Anak Manusia akan menderita oleh mereka" (ay. 12).
III. APLIKASI
Kelindan (berkaitan/ berpautan) antara kemuliaan dan penderitaan yang tersimpul pada identitas Kristus sebagai Anak Allah menolong kita memahami hidup secara utuh. Kita diajar untuk menerima hidup sebagai perpaduan antara dua hal tersebut yaitu sukacita-dukacita, keutuhan-perpecahan, damai sejahtera - penderitaan, kesuksesan - kegagalan. Keutuhan hidup yang sebenarnya ada pada kearifan untuk merangkul keduanya, bukan hanya salah satunya saja. Lebih dari semua itu kita diyakinkan bahwa Kristus sang Anak Allah membersamai kita di dalam kedua kondisi ini. Kematian, ketakutan, kegagalan, sakit-penyakit bukan penanda kealpaan Allah di dalamnya, tapi penegas bahwa sebagaimana Allah di dalam Kristus juga merengkuh kemanusiaan (penderitaan) kita juga bersedia menerima hidup yang kerap tidak bersahabat. Namun kita diingatkan di semua situasi kita ditemani oleh Allah di dalam Kristus sang Pribadi Kedua itu, Sang Anak Allah.
IV. METODE: SHARING
Pendalaman Bahan PA Kalau Allah sendiri berkata, "Inilah Anak yang Kukasihi, dengarkanlah menurut kamu apa artinya mendengarkan Yesus dalam kehidupanmu sebagai anak muda sekarang? Dalam hal apa kamu merasa paling sulit untuk sungguh-sungguh mendengarkan Dia? PA diakhiri dengan bernyanyi lagu usulan sebagai komitmen
V. USULAN LAGU
Selidiki Aku

0 Response to "Pemahaman Tentang Yesus - Mengenal Yesus"
Post a Comment